Jumat, 25 Januari 2008

SEBUAH RENUNGAN PERJALANAN HIDUP

Sejak manusia diciptakan dalam rahim Bunda diciptakan dengan penuh perjuangan. Dari beribu-ribu sperma dari Ayahanda akhirnya terseleksi hanya 1 saja yang sukses membuahi sel telur. Tidak cukup sampai disini setelah terjadi pembuahan kemudian terjadi proses perkembangan embrio (janin) yang menuntut perjuangan Bunda.

Dua minggu pertama setelah bertemunya sperma dan sel telur terjadi proses yg biasa disebut "nyidam" ini adalah berita luar biasa yg dinantikan-nantikan, ada Bunda yg merasakan biasa saja , banyak juga Bunda yang merasakan ketidaknyamanan yang amat sangat seperti mual-mual, pusing bahkan tidak mau makan.

Berjalannya dgn waktu kandungan Bunda pun membesar betapa berat kita dibawa olehnya. Tetapi Bunda tetap sabar dan dengan senang hati merawat kita dengan makan-makanan yang bergizi, olahraga, semakin berkembangnya ilmu dan teknologi aneka pendidikan dalam kandungan pun diusahakan demi sebuah cita-cita ananda yg cerdas dan sholeh nantinya mulai dari didengarkan musik-musik klasik, didengarkan bacaan ayat suci Al Quran, dikenalkan suara sang Ayah dengan belaian lembut tangannya setiap akan berangkat dan pulang kerja, dikenalkan dengan aktivitas ibunya yang semuanya dimulai dengan doa. Subhanalloh tidak hanya itu bahkan banyak juga yg tetap bekerja demi "segepok uang" untuk persiapan kelahiran ananda dan untuk masa depan yg cerah ananda tentunya.

Waktu terus bergulir, akhirnya saat yg dinanti pun tiba 9 bulan perjuangan Bunda akan memetik hasilnya, peluh keringat, nyawa pun ditaruhkan, rasa takut dan haru bercampur baur jadi satu. Ayahanda mondar-mandir diantara tarikan nafas berat ibunda yang menahan sakit tak terkira. Oe oe oe suara merdu yang dirindukan pun terdengar, akhirnya ananda lahir juga, diiringi derai air mata bahagia dan senyum syukur Alhamdulillah ananda lahir dengan selamat. Doa dan syukur pun dipanjatkan.

Ternyata perjuangan belum berhenti sampai disini, Bunda memberikan ASInya yang merupakan karunia Ilahi yang tak ternilai harganya dan tiada bandingannya dengan makanan dan vitamin apapun yang dibuat oleh manusia. Nilai gizi yang begitu kompleks yang merupakan kebutuhan dasar manusia, selain itu merupakan karunia Ilahi untuk mengikat kasih sayang ananda dan Bunda.

Hari demi hari malam demi malam tiada henti kita merepotkan Bunda dan Ayahanda. Rengekan kita selalu mengusik Bunda ditengah-tengah aktifitasnya memasak, membereskan pekerjaan rumah bahkan ditengah tidur Ayahanda dan Bunda untuk menggantikan popok ditengah malam dan memberikan ASInya sehingga praktis Bunda dan Ayahanda tidak bisa tidur lelap walau sebenarnya Ayahanda telah begitu lelah setelah seharian mencari nafkah untuk keluarga tercinta dan Bunda untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah. Tapi itu semua tetap dikerjakan dengan tulus dan senyum bahagia.

Selain kesibukan merawat pertumbuhan kita Ayahanda dan Bunda juga tak lepas mengamati perkembangan kita. Kapan kita mulai merangkak, berdiri, berjalan, bisa berucap mama - papa - maem - walau semua terdengar antara jelas dan tidak jelas. Subhanalloh, bahagia yang tak terkira akhirnya anandapun menyapa. Semuanya sangat membahagiakan Bunda dan Ayahanda seolah-olah telah membayar semua peluh keringatnya. Semuanya menjadi kenangan abadi yang tidak akan terlupakan. (btw apakah saat ini kita pernah membayangkan kerepotan Ayahanda dan Ibunda kita waktu itu? - sekedar untuk mengenang pun kita enggan, MasyaAlloh)

Detik demi detik, hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun dari umur kitapun bertambah . Kita pun tumbuh menjadi kanak-kanak. Demi sebuah cita-cita yang mulia Ayahanda dan Bunda mengajarkan kita untuk mengenal Sang Khalik mulai dari memulai aktivitas kita dengan menyebut Asmanya sampai mengajarkan kita untuk menjalankan sholat. Kita pun bisa bermain dengan teman-teman kita, wah bagus ya mainan "si fulan" maka sepulang dari bermain kita pun merengek "Ayah Bunda...beliin dong mainan kayak punyanya si itu" tak jarang Ayah dan Bunda pun mengabulkan permintaan kita. Tapi tak selamanya ada rizki yg bisa disisakan untuk menyenangkan buah hatinya. Terkadang rengekan kita pun tak dipedulikannya, kita kesel dan ngambek. Kita lupa, pentingkah apa yg kita minta? atau memang waktu itu kita belum mengerti? Ayah dan Bunda berjuang demi sesuatu yg lebih penting yaitu masa depan kita, menyiapkan dana untuk pendidikan kita, sering kita tidak mau tahu tentang hal itu.

Masa terus berjalan, kita pun tumbuh remaja. Semakin banyak yang kita tuntut pada Ayah dan Bunda kita. Biaya pendidikan yang semakin mahal, perangkat hidup yang beraneka ragam, rengekan kita pun ga berhenti. Kita ingin memiliki fasilitas yang layak seperti temen-temen kita. Pergi sekolah, pergi kuliah dgn mobil, HP, fashion dan bla..bla..bla

Subhanalloh, akhirnya pun kita menginjak dewasa. Kita bahagia jika kita termasuk yang beruntung, kita mendapatkan pekerjaan dan bertemu dengan pasangan hidup yang sesuai dengan harapan kita. Bahagia tak terkira ayah bunda kita, ternyata perjuangannya tidak sia-sia. Sang buah hati akhirnya bisa menggapai masa depannya. Padahal sebenarnya apa yang kita berikan untuk kebanggaan Ayah Bunda itu tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan mereka selama ini iya kan?

Tetapi bagaimana halnya dengan saudara kita yang tiada daya, tidak ada pekerjaan, ada pekerjaan tetapi jodoh tak kunjung tiba. Semoga kita termasuk hamba Alloh yang bisa mensikapi kondisi apapun dengan senantiasa berprasangka baik terhadap Ilahi.

Hidup terus bergulir akhirnya kita akan sampai pada masa yang selama ini tidak pernah di pikirkan betapa beratnya yaitu masa menjadi orang tua. Estafet itupun sampai ke tangan kita. Kini pertanyaannya adalah SUDAH SIAPKAH KITA...???

HIDUP adalah sebuah harapan. HIDUP LAYAK adalah sebuah cita-cita. Sejak dilahirkan semua manusia menginginkan hidup layak, tetapi siapa sangka jalan hidup orang berbeda-beda. Ada yang dilahirkan dalam keluarga yang papa , keluarga sedang-sedang saja , dalam keluarga berada. Ada yang dilahirkan dengan kondisi normal, fisik gagah, tinggi semampai, cantik, tampan, otak cerdas dan ada yang dilahirkan dengan kondisi biasa saja, tinggi biasa, wajah biasa, otak biasa, atau bahkan ada juga yang terlahir dalam kondisi luar biasa alias tidak normal, cacat fisik, cacat mental dan lain sebagainya.

Kalau boleh memilih semua manusia menginginkan hidup serba ada, ada cantik, ada cerdas, ada gagah dan ada semua kebaikan. Tidak ada yang memilih hidup apa adanya, tapi saat kita sudah tercipta apalah daya pasti ada rahasia kebaikan dibalik itu semua yang Alloh anugerahkan pada ciptaan-Nya.

Kesempurnaan yang telah Alloh SWT ciptakan untuk kita belum tentu akan membangkitkan rasa syukur kita ataupun sebaliknya kondisi tidak normal belum tentu akan membangkitkan rasa rendah diri pada seseorang. Tergantung bagaimana kita bisa mensikapi Karunia Ilahi yang telah diberikan kepada kita. Hanya ada dua pilihan apakah kita akan menjadi manusia yang beruntung atau yang merugi di akhirat kelak...????

Tidak ada komentar:

-

...