Senin, 19 Januari 2009

Syarat - Syarat Keindahan


Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Saudaraku, Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Sedang kita mahluknya yang dhaif, sering memandang keindahan itu hanya sebatas topeng saja. Padahal keindahan yang hakiki tidak hanya berasal dari topeng, tapi dari dalam jiwa kita inner beauty).

Semoga Allah Yang Maha Indah mengaruniakan kita akhlak yang indah. Dengan Rahmat-Nya, Allah menanamkan pada hati hamba-hamba-Nya rasa suka akan keindahan. Kita semua senang dengan keindahan. Kita senang dengan alam yang indah. Kita senang melihat awan biru yang disulam burung-burung berterbangan. Orang pun berbondong-bondong pergi ke pantai yang indah, tak ada gelombang yang menakutkan. Selain itu, kita pun senang mendengar suara yang indah. Intinya, semua orang menyukai hal yang indah-indah. Itu adalah fitrah.

Pertanyaannya sekarang:


kenapa ada orang yang penampilannya indah tapi ia tidak disukai orang lain?
Kenapa ada orang yang memiliki rumah yang megah tapi hidupnya tidak bahagia ?
Kenapa ada orang yang suaranya indah, tapi akhirnya ia mengalami nestapa ? Sebaliknya, ada orang tua yang secara fisik tidak menarik, tapi dicintai banyak orang.
Ada orang yang tunanetra tapi suaranya dipuji banyak orang. Pasti ada apa-apanya dibalik fenomena tersebut.

Keindahan itu memiliki beberapa syarat:


Pertama, indah itu letaknya pada kebersihan. Bersih di sini bisa bersifat fisik ataupun bersifat nonfisik. Bersih secara fisik meliputi bersih anggota badan, penampilan, lingkungan, maupun bersih penghasilan. Saudaraku, bila kita ingin menjadi pribadi indah, maka cintailah hidup bersih. Secara fisik mulailah kita rawat tubuh kita agar selalu bersih. Rambut, gigi, mata, kuku, dan seluruh anggota badan lainnya, usahakanlah terjaga kebersihan dan kerapiannya. Begitu pula penampilan kita harus selalu dijaga kebersihannya. Seandainya kita tidak punya baju yang bagus, maka usahakanlah dijaga kebersihannya.

Usahakan pula rumah kita selalu bersih, baik itu bersih dari sampah dan debu, juga bersih dari barang-barang haram maupun barang yang tidak perlu, itu secara fisik. Tidak kalah penting adalah bersih akhlak kita, karena secantik dan setampan apapun seseorang, bila kelakuan dan ucapannya kotor, maka ia tidak akan punya harga, jatuh harga dirinya. Begitu pula dengan pikiran, hindarilah berpikir kotor, mesum, atau berpikir jelek tentang orang lain. Berpikirlah selalu tentang kebaikan orang lain, karena semakin kita memikirkan kejelekan orang, maka akan semakin tersiksa diri kita. Tentunya, semua kebersihan ini tidak terasa lengkap tanpa disertai oleh bersihnya hati. Bila hati kita bersih,

maka wajah kita akan terlihat cerah, perilaku santun, kata-kata terjaga, dan sikap kasih sayang akan terpancar dari pribadi kita. Bila kita mampu membersihkan jasmani dan rohani, insya Allah akan menjadi pribadi yang indah dan disukai Allah dan orang lain. Boleh jadi paras kita tidak begitu menarik, tapi pribadi kita menawan semua orang.

Syarat keindahan ke dua adalah keserasian. Apapun yang tidak serasi akan jauh dari keindahan. Keserasian, intinya kita harus proporsional dan tepat dalam bertindak, berbicara, berpenampilan. Dalam keserasian ini, termasuk pula cara hidup yang tidak melebihi kemampuan dan kenyataan. Hidup yang proporsional. Caranya, kita harus mengendalikan keinginan, jika ingin membeli suatu barang. Ingat, yang paling penting adalah bertanya pada diri apa yang paling bermanfaat dari barang yang kita beli. Buatlah skala prioritas. Misalnya, haruskah membeli sepatu seharga 1 juta rupiah, padahal keperluan kita hanya berupa sepatu olahraga. Apalagi di hadapan tersedia aneka pilihan harga, mulai dari yang 700 ribu, 400 ribu, 200 ribu, sampai yang 50 ribu rupiah. Mereknya pun beragam, tinggal dipilih mana kira-kira yang paling sesuai. Nah, jika kita ada dalam posisi seperti ini, maka carilah sepatu yang paling tidak membuat kita sombong ketika memakainya, yang paling tidak menyiksa diri dalam merawatnya, dan yang paling bisa bermanfaat sesuai tujuan utama dari pembelian sepatu tersebut. Hati-hatilah, sebab yang biasa kita beli adalah mereknya, bukan awetnya, karena kalau terlalu awet pun akan bosan pula memakainya.

Syarat keindahan ke tiga adalah perawatan. Taman bagus tapi tidak dirawat, maka keindahannya akan pudar. Gigi rapi tapi tidak terawat, maka akan mendatangkan banyak masalah. Motor baru dan mahal tapi jarang dirawat akan cepat rusak. Tubuh tidak dirawat dengan olahraga, maka akan cepat rapuh dan tidak kelihatan bugar. Perawatan itu adalah salah prasyarat paling esensial dalam keindahan. Iman kita pun harus sering dirawat, agar tidak cepat rusak. Dibanding yang lainnya, perawatan iman harus lebih intensif dilakukan, bahkan setiap waktu. Dengan dzikir, shalat, sedekah, shaum (puasa), membantu kaum dhuafa, ikut Majlis Taklim. /Wallahu a'lam bish-shawab./

Read More......

Minggu, 11 Januari 2009

Rehat untuk Refresh Ilmu


Kisah Si Penebang Pohon"Kan Shu De Gu Shi" Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon. Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, "Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu."

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. "Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawab kan hasil kerjaku kepada majikan?" pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa.

Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, "Kapan terakhir kamu mengasah kapak?" "Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga," kata si penebang. "Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa.

Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!" perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak. "Xiu Xi Bu Shi Zou Deng Yu Chang De Lu"Istirahat bukan berarti berhenti."Er Shi Yao Zou Geng Chang De Lu"Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat/rehat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!

Read More......

Senin, 05 Januari 2009

Ternyata Kursi Itu Masih Basah


Judul ini sengaja zie pilih sebagai refleksi keprihatinan atas diperebutkannya kursi kepemimpinan dengan ambisi negatif.

Waktu liburan tahun baruan kemaren ada acara heboh hampir di setiap desa di kabupaten zie seperti perayaan agustusan, ada undiannya segala, ga tanggung tanggung undiannya motor, kulkas, tv dll. Ditambah lagi ada acara potong sapi dan kerbau untuk makan-makan rakyat sekampung. Selidik punya selidik ternyata itu adalah acara pemilihan kepala desa.



Bagaimana tidak heboh...hanya untuk menjadi kepala desa mereka rela modal minimal Rp. 100 juta per calonnya dan mereka rela berhutang bahkan di desa tetangga ada seorang pencari barang bekas rela menghabiskan uang Rp. 500 juta (yang didapatkan dari menjual tanah warisan) untuk kampanye dalam rangka mencalonkan diri menjadi kepala desa. Yang dari kasak kusuk yang zie dengar dana itu dihabiskannya selama 5 bulan pre pemilihan untuk mentraktir dan membagi-bagikan beras kepada rakyat sekampung...terlepas benar or tidak tapi fantastik bukan??? Mereka tergoda bahkan gila-gilaan melakukan itu semua hanya untuk memperebutkan tanah seluas 25 bau (5 hektaran) yang nanti akan didapatkan jika mereka berhasil menduduki tahta kerajaan di desa alias menjadi kepala desa.

Beberapa bulan yang lalu juga Bapak zie sempet nawarin zie "nduk..gimana kalau kamu nyalon jadi lurah karena di desa kita nda ada yang daftar?" ...spontan aja zie langsung ketawa selain karena zie ga tertarik juga zie merasa belom pantas aja untuk menjadi seorang pemimpin. Boro-boro mimpin rakyat sekampung mimpin diri sendiri aja zie masih belom bener.

Oh iya kembali kepada motivasi para calon yang gila-gilaan hanya untuk mengejar prestise dan materi balasan dari jabatan mereka, kalau seperti ini motivasinya apa ga salah tuh???

Pantas saja setelah acara perhitungan cuma dua kondisi yang akhirnya terjadi:
  1. Bagi Pemenang - Kepuasan yang cenderung mendekati kesombongan zie kira (ini menurut zie sih semoga ini tidak benar), bagaimana tidak ... setelah mereka menang dirayakan dengan pesta pora untuk menunjukkan penghargaan terhadap prestise bergengsi (menurut mereka) yang baru saja diraih... yang seharusnya orang merasa mendapat beban tanggung jawab yang berat untuk memimpin rakyat bukan?

  2. Bagi yang kalah tentunya Kekecewaan yang luar biasa karena gengsi, kebangkrutan menanggung hutang, bahkan jika tidak kuat iman hampir kepada titik putus asa.


Menengok sepotong profil pemimpin di kampung ini rasanya membuat miris hati kita. Dan bisa jadi ini nanti juga terjadi saat pemilihan kepala Negeri kita. Sudah mendarah daging bahkan turun temurun nilai ambisius negatif ini. Zie pikir kondisi ini sudah tidak terjadi apalagi di era saat ini dimana anti korupsi, anti money politik sering dijadikan jargon dan bahkan sudah biasa ditelinga kita, tapi kok ya kenapa ini masih terjadi juga bahkan terang-terangan tanpa tedeng aling-aling.


Kita bisa menjawab sendiri "Bagaimana jadinya rakyat kita jika profil pemimpinnya diawali dengan motivasi memperebutkan materi ???

Boro-boro buat mikirin or solidaritas terhadap orang or bangsa lain (seperti saudara-saudara kita di Palestina) , yang dipikirin adalah bagaimana caranya dapetin uang sebanyak-banyaknya untuk mengembalikan modal selama kampanye bukan???

SAVE PALESTINA - apapun agama dan kewarganegaraan kita, tragedi Palestina adalah tragedi kebiadaban terhadap kemanusiaan

Read More......

Kamis, 01 Januari 2009

What Should a Moslem’s View of the People of the Book and Zionism Be?

"Mankind! We created you from a male and female , and made you into peoples and tribes so that you might come to know each other. The noblest among you in God's sight is the one who best performs his duty ; God is All-Knowing, All-Aware." (Qur'an, 49 : 13)


Moslems’ attitude towards Jews should be as ordained by the Quran. God reveals in the Qur’an that Jews, like Christians, are part of the people of the book. Moslems as well as Jews believe in the same God and follow the examples set by the prophets sent by Him with due love and respect. Abraham, Isaac, Joseph, Moses, David and Solomon (peace be upon them all) are as important to Moslems as they are to Jews. Moslems address the Jews and the Christians as follows in the Qur’an: “We believe in what has been sent down to us and what was sent down to you. Our God and your God are one and we submit to Him.” (Qur’an, 29:46) All forms of social relations between Moslems and Jews must be within a framework of justice, peace and security, and Moslems’ attitude towards Jews must always be reconciliatory, forgiving and tolerant.
People are not guilty and children become victims turpitude of Zionis Israel


At various times in their history, Jews suffered oppression and genocide. The main culprit behind such atrocities is anti-Semitic ideology, which led to many tragic events in the 20th century. The true meaning of the term is hatred of Semites, although it is generally understood to mean hatred of Jews. It expresses a hatred for people of Semite descent or the Semitic race. The underlying reason for this hatred for the Semitic races is the hatred felt for the divine religions revealed to them. In other words, Nazism’s and other fascist movements’ hostility towards Jews is in reality a hatred of religion. Anti-Semitism is therefore a pagan teaching that cannot be adopted by any Moslem. People who advocate and incite anti-Semitism are often revealed to be people who also advocate a return to idolatrous practices and war, who enjoy merciless bloodshed, and who are uncontrolled and barbaric. Such people oppose the peace, modesty, love and compassion of true religious morality taught by the prophets. Moslems and Jews are on the same side against such tyrants. Islam aims to bring justice to the world and condemns anti-Semitism, as it does all forms of racism. Moslems support the right of the Jews, like all other people, to live in peace and security. Moslem principles have throughout the course of history guaranteed refuge in Moslem lands to Jews fleeing persecution at various times. Jews exiled from Spain were welcomed by the Ottoman Empire, and thousands of them settled down there. The anti-Semitic sentiments often seen in Christian countries never developed on Moslem soil. Jews and Moslems in Moslem lands have lived side by side in peace and security for centuries. It was Islamic principles that created this secure environment.

A Moslem must always bear these facts in mind in his thinking and behaviour regarding Jews. However, Judaism and Zionism must be distinguished between. The ideology of Zionism is principally responsible for the years of endless conflict and war, bloodshed and tears in Palestine. However, Zionism and its real plans are not well known in the West. Many people in the West have been conditioned to believe that Zionism is an ideology which advocates a homeland for the Jewish people and are therefore sympathetic to this ideology, although the reality is altogether different.

It is true that Zionism seeks the creation of a homeland for Jews and that Zionists work to that end. This struggle, however, is probably the most unjustified, cruel and merciless ever waged. Zionism developed in the 19th century to create a homeland for the Jews, and its adherents’ chosen land was Palestine, also regarded by Jews as their holy land. What began as a legitimate and just cause turned into an ethnic cleansing and ruthless colonising project that totally disregarded the native Moslem Arab population. Zionist slogans such as “unpopulated land for a landless people” were no more than misleading propaganda, as the Jews were not homeless, nor was the land they sought unpopulated. The migration movement to Palestine started by the Zionists was the beginning of the chaos in the Middle East, as they drove people from their homes and land instead of cohabiting with the native population.

Had the Zionist leaders ensured that the Jews they brought to that land lived together in peace with the other peoples living in Palestine, this chaos would not have erupted. They failed to do that, however. Zionists totally disregarded the other religions and nations, and aimed to bring a wide region, described by them as the Promised Land, under their domination. They therefore resorted to the most ruthless methods. Moreover, Zionism’s ambitions are not just restricted only to the Middle East. Zionism is an irreligious and racist ideology that seeks world dominion and therefore represents a threat to world peace. The map which Zionist ideology drew up for the Jews consisted of a very large area.

Theodore Herzl said in his speech at the Zionist congress of 1897 in Basel that, “The northern frontier is to be the mountains facing Cappadocia (Asia Minor), the southern, the Suez Canal.” (1) The founding father of the Israeli state, David Ben Gurion, defined the purpose of Zionism as follows:

The present map of Palestine was drawn by the British mandate. The Jewish people have another map which our youth and adults should strive to fulfill—From the Nile to the Euphrates. (2)

As we have seen, if Zionism really only aimed to secure a homeland for the Jews it would be a justified movement. However, Zionism distanced itself from that lawful demand by evolving into a colonialist and exploitative project.

In the same way that Islam rejects anti-Semitism, a racist ideology, it also rejects Zionism, another racist ideology. It must not be forgotten, however, that not all Jews are Zionists. Indeed, there are many Jews who oppose the crimes against humanity of Zionism, fiercely criticise these, maintain that Israel must immediately withdraw from all the occupied territories, and wish Israel to be a free state in which all nations and identities can live together as equals. As Moslems rightfully oppose Zionism, therefore, they must bear these truths in mind and be aware that the criticisms are aimed at Zionism, not at Jews. For someone to criticise and hurt innocent Jews on account of the crimes of Zionism is a violation of justice. If he condemns the various Jewish communities in the world on account of the unjust occupation by and attacks of Zionism, he again contravenes justice and commits a grave error. If he perpetrates terrorist actions against those who support the aggression and occupations of Zionist ideology and aims these at Israeli civilians, he turns away entirely from the path of justice, and commits a grave sin by targeting innocent people.

It is revealed in the Qur’an that the Jews are a blessed people from the line of the Prophet Abraham (peace be upon him) and descended from the worthy prophets of God. There is no doubt that the Jews’ efforts to migrate and build a homeland for themselves wherever they desire in the world is a most lawful demand. For that reason, it is the Jews’ most natural right to wish to live in their own holy lands. Their ancestors lie buried in these lands, which are of the greatest significance to them. Indeed, God reveals in the Qur’an that He has settled the Jews in those lands they live in:

They say, ‘If we follow the guidance with you, we shall be forcibly uprooted from our land.’ Have We not established a safe haven for them to which produce of every kind is brought, provision direct from Us? But most of them do not know it. (Qur’an, 28:57)

As revealed in the verse, God has settled the Jews in these lands, and Jews have the right to live freely on Palestinian territory, as do Moslems and Christians. However, this objective, which was so far perfectly reasonable and justified, lost that justification with the total disregard of the Moslem Arab people living in Palestine. Zionism, which has turned into a destructive ideology based on violence, has led to people being forced out of their homes and land, which they had lived in for hundreds of years. Those who have refused to leave their lands have been ruthlessly slaughtered. That is what makes Zionism unlawful.

You can get more article about Palestine from TragedyPalestine.com , HarunYahya.com


Read More......

-

...