Senin, 05 Januari 2009

Ternyata Kursi Itu Masih Basah


Judul ini sengaja zie pilih sebagai refleksi keprihatinan atas diperebutkannya kursi kepemimpinan dengan ambisi negatif.

Waktu liburan tahun baruan kemaren ada acara heboh hampir di setiap desa di kabupaten zie seperti perayaan agustusan, ada undiannya segala, ga tanggung tanggung undiannya motor, kulkas, tv dll. Ditambah lagi ada acara potong sapi dan kerbau untuk makan-makan rakyat sekampung. Selidik punya selidik ternyata itu adalah acara pemilihan kepala desa.



Bagaimana tidak heboh...hanya untuk menjadi kepala desa mereka rela modal minimal Rp. 100 juta per calonnya dan mereka rela berhutang bahkan di desa tetangga ada seorang pencari barang bekas rela menghabiskan uang Rp. 500 juta (yang didapatkan dari menjual tanah warisan) untuk kampanye dalam rangka mencalonkan diri menjadi kepala desa. Yang dari kasak kusuk yang zie dengar dana itu dihabiskannya selama 5 bulan pre pemilihan untuk mentraktir dan membagi-bagikan beras kepada rakyat sekampung...terlepas benar or tidak tapi fantastik bukan??? Mereka tergoda bahkan gila-gilaan melakukan itu semua hanya untuk memperebutkan tanah seluas 25 bau (5 hektaran) yang nanti akan didapatkan jika mereka berhasil menduduki tahta kerajaan di desa alias menjadi kepala desa.

Beberapa bulan yang lalu juga Bapak zie sempet nawarin zie "nduk..gimana kalau kamu nyalon jadi lurah karena di desa kita nda ada yang daftar?" ...spontan aja zie langsung ketawa selain karena zie ga tertarik juga zie merasa belom pantas aja untuk menjadi seorang pemimpin. Boro-boro mimpin rakyat sekampung mimpin diri sendiri aja zie masih belom bener.

Oh iya kembali kepada motivasi para calon yang gila-gilaan hanya untuk mengejar prestise dan materi balasan dari jabatan mereka, kalau seperti ini motivasinya apa ga salah tuh???

Pantas saja setelah acara perhitungan cuma dua kondisi yang akhirnya terjadi:
  1. Bagi Pemenang - Kepuasan yang cenderung mendekati kesombongan zie kira (ini menurut zie sih semoga ini tidak benar), bagaimana tidak ... setelah mereka menang dirayakan dengan pesta pora untuk menunjukkan penghargaan terhadap prestise bergengsi (menurut mereka) yang baru saja diraih... yang seharusnya orang merasa mendapat beban tanggung jawab yang berat untuk memimpin rakyat bukan?

  2. Bagi yang kalah tentunya Kekecewaan yang luar biasa karena gengsi, kebangkrutan menanggung hutang, bahkan jika tidak kuat iman hampir kepada titik putus asa.


Menengok sepotong profil pemimpin di kampung ini rasanya membuat miris hati kita. Dan bisa jadi ini nanti juga terjadi saat pemilihan kepala Negeri kita. Sudah mendarah daging bahkan turun temurun nilai ambisius negatif ini. Zie pikir kondisi ini sudah tidak terjadi apalagi di era saat ini dimana anti korupsi, anti money politik sering dijadikan jargon dan bahkan sudah biasa ditelinga kita, tapi kok ya kenapa ini masih terjadi juga bahkan terang-terangan tanpa tedeng aling-aling.


Kita bisa menjawab sendiri "Bagaimana jadinya rakyat kita jika profil pemimpinnya diawali dengan motivasi memperebutkan materi ???

Boro-boro buat mikirin or solidaritas terhadap orang or bangsa lain (seperti saudara-saudara kita di Palestina) , yang dipikirin adalah bagaimana caranya dapetin uang sebanyak-banyaknya untuk mengembalikan modal selama kampanye bukan???

SAVE PALESTINA - apapun agama dan kewarganegaraan kita, tragedi Palestina adalah tragedi kebiadaban terhadap kemanusiaan

25 komentar:

Kristina Dian Safitry mengatakan...

daftar jadi bu lurah dong mbak. tak dukung kok. percaya diri aja lagi,he..he...tapi kalo gak berminat ya sulit juga ya..

Seno mengatakan...

Wah kalo Mba Zie yang jadi lurah pasti rakyatnya sejahtera. Tidak ada korupsi. Jujur.

Tentang cara2 sebagian dari mereka untuk menjadi lurah, saya juga g setuju, rata2 mereka mencari2 kelemahan lawan yang sebagian isinya fitnah ya Mba.

Salam, sukses selalu. Pokoknya saya dukung Mba Zie kalo mau nyalon lurah. Terkadang untuk memperbaiki suatu sistem, kita harus masuk ke dalamnya.

Sekar Lawu mengatakan...

tanggung kaluk 'cuma' lurah saja, bagaimana kaluk bupati atau presiden sisan,Zie ? qiqiqi...Zie bingung yah ?

Star In Heaven mengatakan...

Gimana kalau daftar jadi camat apalagi jadi bupati, baru mau jadi lurah aja harus ngeluarin modal 100 juta

ck...ck...ck...

Ternyata kursi basah itu mahal ya Mbak

mama hilda mengatakan...

itulah, rakyat kecil suaranya hanya sebagai tangga untuk bisa naik kursi, setelah diatas kursi apa mereka merasa sebagai abdi rakyat..kebanyakan malah maunya dilayani oleh rakyat..duh reibet pemimpin2 kita ini...

ernut mengatakan...

aku kenal seseorang, usaha nyalon bupati dan walikota kalah semua, sekarang sakit keras..walah

"Amirul's Family" mengatakan...

Dah jadi rahasia umum tuh mang kejadiannya seperti itu..tapi pastinya ada dhonk ....calon yang mang beneran cakap memimpin berkarisma dan dicinta masyarakat,modalnya bukan hanya materi sesaat tapi sudah menanam kebaikan untuk dirinya keluarga dan orang lain menebar dari hati ke hati..

Sangat wajar jika Bapak menaruh harapan mulia itu yang tentu telah dipertimbangkan akan potensi putri tercintanya palagi belum ada yang nyalon...hayo dhonk Mba' Zie..kesempatan pula untuk berkiprah lebih nyata memperbaiki sistem paradikma yang terjadi selama ini..budhe juga ndukung dech..smoga Allah Ta'alla permudah jalannya..enak kali ya ..duduk di kursi nyang entu he..

Didiet mengatakan...

hmmm....mau nulis apa ya mbak

nirmana mengatakan...

wah klo saya punya 500jt mending buat buka usaha trus rekrut tenaga kerja , jadi bisa ikutan pemerinttah membuka lapangan kerja.

Atca mengatakan...

Wahh gimana ngga korup mba..kalo modalnya aja sudah gede gitu..
memang susah ya mau memberantas hal2 seperti ini...
Coba kalo ngga usah pake kampanye gede2an gitu yah..lagian buang2 duit..coba mba mau..pasti awal dari perubahan he..he..

suryaden mengatakan...

jadi pengnatin aja mbak, bisa nyeneng-nyenengin tetangga dan banyak orang, palagi kalo makananya enak-enak...
waks... gak nyambung...

Erik mengatakan...

Memang sekarang sulit mencari calon pemimpin yang amanah.

Kalau di jaman para sahabat Rasulullah, mereka pada menolak karena tau bagaimana beratnya menanggung amanahnya, jaman sekarang pada malah berambisi, rela berhutang dan "menyogok" masyarakat.

Walaupun sulit, saya mencoba mencari figur yg memang telah berkiprah dg baik, sederhana, berilmu dan berakhlak mulia.

Sekarang ini bukan dicalonkan, tapi mencalonkan diri ya?

Btw, ggp awardnya dipasang disini..

yaqon mengatakan...

ALLOH AKBAR...Janji alloh memang seperti ini pada tanah yang bernama palestin

Lyla mengatakan...

mbak.. yang duduk disitu abis ngompol yak kok kursinya basah ehehhee... just kidding mbak :)

chubskulit mengatakan...

visiting!

joops mengatakan...

hello

Anonim mengatakan...

Ya Allah, berikan kedamaian dan keselamatan pada mereka yang sedang teraniaya di negeri Palestina.
Ya Allah, Engkaulah sumber keselamatan, Engkaulah Yang Maha melindungi. Allahu Akbar.
Ya Allah, hancurkan orang2 yang telah membuat kerusakan dan kezaliman di muka bumi ini. Berikan kekuatan dan bimbingan kepada muslim sedunia untuk bersatu dalam meninggikan kalimatul 'Ulya.

Tunjukki mereka yang tersesat agar kembali kepada jalanMu yg lurus. terhttp://www.eramuslim.com/berita/dunia/muhammadiyah-diam-diam-jalin-kerjasama-dengan-israel.htm

nita mengatakan...

justru kalau orang2 seperti zie gak mau mencalonkan diri, maka orang2 egois itulah yg bakalan menguasai negeri ini

Witha mengatakan...

Klo mbak Zie jadi lurah pasti desanya aman, makmur dan tentram.

Memang mbak, kepemimpinan yg diawali dgn ambisi materi, malah akan membuat tempat yg dipimpinnya jadi makin miskin. Smoga pemimpin2 spt itu cepet sadar.

Nyante Aza Lae mengatakan...

ambil uangnya..ga usah pilih orangnya..

iam mengatakan...

itula ciri2 manusia kehidupan tapi bukan manusia hidup..

xitalho mengatakan...

Mbak Zie... ayo maju jadi Bu Lur, potong dan hapus rantai KKN di lingkungan sampeyan..!! Piye mbak??

Deny Rendra mengatakan...

bagi mereka yang berebut kekuasaan itu memang tidak memaknai apa makna sebuah jabatan.

padalah jabatan itu adalah sebuah amanah yang tidak hanya dipertanggungjawabkan di dunia tapi juga di akhirat.

beberapa pendapat aku tentang posting-an mbak ziezie ini ada di :
http://intelektualkuldesak.blogspot.com/2009/01/bukan-wakil-tuhan-di-bumi.html
http://intelektualkuldesak.blogspot.com/2008/11/artis-caleg.html
http://intelektualkuldesak.blogspot.com/2008/11/partai-islam-antara-kepentingan-dan.html
http://intelektualkuldesak.blogspot.com/2008/10/wahyu-vs-mandat_105.html
http://intelektualkuldesak.blogspot.com/2008/11/saya-bersumpah.html

Deny Rendra mengatakan...

eh, satu lagi...
cuma mau meralat isi posting dan komentar-komentar yang ada

jabatan LURAH merupakan jabatan di dapat karena penunjukan oleh Kepala Daerah (Bupati/ Walikota). sehingga tidak ada proses pendaftaran dan pemilihan oleh masyarakatnya. karena Kelurahan dan Kecamatan bukanlah wilayah yang otonom.

kecuali utk jabatan KEPALA DESA, baru di dapatkan melalui proses pemilihan di masyarakat dan pemenang nya akan di lantik oleh Kepala Daerah (Bupati/ Walikota) bersangkutan. karena Desa adalah wilayah yang otonom, sama hal nya dengan kabupaten/kota dan provinsi.

demikian utk perbaikan

Apipuzi mengatakan...

kalau jabatan terlihat nyata sebagai amanah yang harus diemban, pasti orang-orang tak mau berbasah-basah!

-

...