Kamis, 05 Juni 2008

STOP KEKERASAN pasti INDONESIA BISA


Sudah 16 hari berlalu perayaan 100 abad Kebangkitan Nasional Indonesia. Rasanya gaung itu masih terdengar tapi kenapa tidak bisa kurasakan ya kebangkitan bangsa ini. Setiap pagi di hampir semua stasiun televisi diberitakan kekerasan - kekerasan dan aneka demonstrasi yang terjadi di negeri ini. Jadi sesungguhnya dimanakah arti kebangkitan nasional itu?

Kekerasan seseorang terhadap dirinya sendiri dengan bunuh diri karena tidak kuat menahan beban ekonomi yang katanya salah satu penyebabnya adalah kenaikan BBM. Kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok golongan terhadap golongan lainnya. Dan demonstrasi-demonstrasi dari berbagai kalangan anak negeri yang semakin berani dilakukan sejak era reformasi, yang beberapa diantaranya ada yang diakhiri dengan kekerasan juga.

Kalau kita coba telaah lebih jauh "sebenarnya sukakah kita akan kekerasan?". Tidak memperhitungkan siapa dia, apakah pejabat pemerintah, apakah pengusaha, apakah kalangan ekonomi lemah, apakah kaum terdidik atau tidak, apakah tua atau muda, bahkan preman pun secara serentak dari lubuk hatinya pasti akan menjawab "TIDAK SUKA KEKERASAN". Karena sesungguhnya memang makhluk hidup terutama manusia diciptakan oleh Tuhan dengan fitrah "ingin dilindungi dari bentuk kekerasan apapun".

Segala bentuk kekerasan baik pada diri sendiri ataupun orang lain, di agama, budaya dan negara manapun pasti dilarang karena semuanya pasti merugikan. Seseorang yang kalap, entah karena beban ekonomi, gagal meraih prestasi atau patah hati yang katanya karena kesucian cinta yang ternodai dan akhirnya melakukan kekerasan terhadap diri sendiri tidak akan memberi solusi sedikitpun bahkan menimbulkan masalah baru. Nyawa yang melayang karena mendahului takdir Ilahi dengan cara yang tidak diridhoi pastinya diakhirat kelak akan mendapatkan pengadilan azab dari Ilahi. Keluarga yang ditinggalkan akan kehilangan sosok yang seharusnya masih bisa diharapkan kontribusinya. Kalaupun nyawa tidak jadi melayang tetapi terlanjur terlukai diri ini tentunya rasa sakit yang diderita, belum lagi keluarga yang harus mengusahakan biaya untuk kesembuhannya.

Kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok golongan kepada golongan lainnya dengan dalih golongan yang lain salah dan golongannya benar juga tidak pernah memberikan hal positif. Pastinya masing-masing akan bersikukuh mempertahankan opininya dengan berbagai alibi. Ironisnya ini dilakukan dengan sesama anak negeri yang katanya "Indonesia" adalah negara yang terkenal dengan budaya timurnya yang kental dengan ramah-tamah, sopan-santun dan saling menghormati antar umat beragama dan suku yang berbeda-beda, bahkan ini diabadikan dalam lambang negara Indonesia Pancasila dengan Persatuan dan Kesatuan dalam Bhineka Tunggal Ika. Ironisnya lagi kenapa kekerasan ini dilakukan oleh umat Islam yang merupakan agama "Rahmatan Lil'Alamin - Kasih sayang bagi seluruh alam semesta". Aku sebagai umat Islam yang pemahaman agamaku belum seberapa aku dengan tegas mengatakan "ini bukan agama Islamnya yang salah" karena di semua isi Kitab Umat Islam Al Quran tidak ada sedikitpun diperintahkan kekerasan kepada siapapun kecuali kaum kuffar yang melakukan kekerasan terhadap agama Islam. Dan pastinya di agama lainpun kekerasan juga tidak diperintahkan.

Hendaknya masing-masing pihak dengan segenap ilmu dan pengalaman hidupnya bisa saling introspeksi diri. Hukum agama dan negara harus ditegakan. Saya rasa saling menghujatpun tidak perlu karena sama saja akan menimbulkan kekerasan dan masalah baru di negeri ini. Kalaupun ada yang diuntungkan itu hanya segelintir golongan yang merasa dirinya menang dan berkuasa. Tetapi kemenangan yang didapatkan dari kekerasan pasti tidak akan abadi karena dia telah menanamkan sakit fisik dan hati yang akhirnya menghasilkan dendam. Dendam yang bergelora akan menimbulkan kekerasan yang lebih lagi dari sebelumnya, sedangkan dendam yang tersembunyi akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu siap meledakan kekerasan yang tak terduga. Dengan pikiran jernih, jadi sebenarnya apa keuntungannya kekerasan itu?

Melakukan demonstrasi untuk mengaspirasikan kepentingan rakyat dinegeri ini seolah-olah sudah menjadi trend sejak demokrasi dideklarasikan di Era Reformasi 1998 kala itu. Jadi memang tidak bisa disalahkan kalau rakyat berdemo untuk menuntut haknya, tetapi yang jadi pertanyaan adalah "benarkah demo itu untuk membela kepentingan rakyat?". Kalau memang suatu demonstrasi itu dilakukan semata-mata untuk kepentingan rakyat sudah seyogyanya juga dilakukan dengan cara-cara yang baik yang tidak merugikan rakyat. Jadi "untuk kepentingan siapakah demo yang dilakukan dengan cara-cara anarkis yang merusak fasilitas umum yang notabene untuk kepentingan rakyat?".

Negeri ini sudah sangat sakit dengan masalah-masalah yang belum juga ada solusi bijaksananya (win-win solution). Solusi harga BBM yang dinaikan yang ternyata menimbulkan masalah di masyarakat ekonomi lemah. Solusi "Tabung dan Kompor Elpigi gratis" yang ternyata dilapangan menimbulkan masalah karena banyak tabung elpigi yang bocor sehingga ada beberapa masyarakat yang terluka karena ledakan tabung bocor itu. Solusi "Raskin - beras untuk orang miskin" yang ternyata realisasi di lapangan masih banyak yang diselewengkan oknum dengan dijual sebagai beras konsumsi umum. Solusi "BLT-bantuan langsung tunai" yang banyak didemo karena quotanya kurang dari jumlah penduduk miskin dilapangan. Hutang negeri ini yang belum lagi lunas. Masalah dekadensi moral dengan berbagai bentuk kejahatan narkoba, kekerasan, aksi pornografi pornoaksi, pembunuhan dan koruptor yang kebal hukum.

Begitu kronis dan akut nya sakit negeri ini "masih tegakah kita untuk menyakitinya lagi?".

Memang rasa-rasanya bingung kita sebagai bangsa Indonesia harus menyembuhkan dari sisi mana dulu. Jangankan kita orang biasa yang tidak mempunyai peran langsung untuk penyembuhan semua masalah negeri ini, pejabat pemerintah yang mempunyai kewenangan langsung mengambil kebijakan dan keputusan pastinya lebih bingung dan lebih pusing.

Tapi masing-masing kita dengan masing-masing profesi dan kondisi seyogyanya tetap bisa memberikan kontribusi terhadap penyembuhan penyakit negeri ini. Seperti slogan Indonesia yang dideklarasikan oleh Bapak Presiden Indonesia Soesilo Bambang Yudhoyono di senayan saat Perayaan 100 abad Kebangkitan Nasional 20 Mei 2008 yaitu "INDONESIA BISA". Kita Bisa memberikan kontribusi dengan melakukan yang terbaik pada profesi dan kondisi kita masing-masing. Siswa dan Mahasiswa "Indonesia Bisa" memberikan kontribusi dengan belajar dan kuasai berbagai bidang ilmu. Para pengusaha dan pekerja "Indonesia Bisa" dijaga harmonisasi kerja dan koordinasinya. Petani "Indoensia Bisa" tingkatkan kuantitas dan kualitas produksinya. Pendidik dan Ilmuwan "Indonesia Bisa" berikan pendidikan dan ilmu yang terbaik untuk anak negeri ini. Budayawan dan sastarawam "Indonesia Bisa" mempromosikan dan menjaga kelestariannya sehingga tidak lagi diakui dan dicuri oleh negara lain.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah "Stop Kekerasan" kita jaga emosi kita dengan menjalankan secara benar agama dan budaya daerah kita masing-masing sehingga fokus "Indonesia Bisa" segala hal bisa diwujudkan dengan tidak terganggu oleh kesibukan menyelesaikan pertikaian, dendam dan kehancuran material karena kekerasan.

Tidak ada komentar:

-

...