Kamis, 18 Desember 2008

Ketulusan Cinta itu Mencari Jalannya

VOTE ME "KCC"

Menanggapi beberapa komen sahabat, memang betul cerita "Ketulusan Cinta Boni dan Sarah yang sedang teruji" ini diambil dari acara termehek-mehek TRANSTV hanya namanya diganti dan kita berharap semoga pelaku aslinya bisa mendapatkan ending yang membahagiakan semuanya ya...begitu juga dengan Boni dan Sarah. Begini kisah selanjutnya, selamat menikmati dan mengomentari sebagai ajang latihan jadi sutradara hehehe

Saat pertemuan Boni dan Sarah malam itu di apartemen mereka, percakapan dan bahkan sampai pertengkaran tidak dapat dielakan, disaksikan oleh Roni dan beberapa temannya yang berusaha terlibat dengan melerai mereka.

Boni dengan aura marah di mukanya : Sarah kamu kemana aja sih? aku berharap saat pulang kerja bisa melihat istriku yang sedang hamil anak pertamaku...eh tapi apa malah kamu kabur dari rumah?

Sarah : Lagian kamu juga sih Mas.. kerja terus ga pernah mikirin aku...aku kan juga butuh kasih sayangmu Mas, apalagi aku yang sedang hamil pertama kamu tinggal sendiri sementara aku ga tahu harus ngapain...belum lagi saat aku payah hamil muda berharap suamiku bisa memanjakan aku (menunduk sedih duduk di soffa lalu menangis)

Boni pun masih belum terima sanggahan Sarah : aku kan kerja untuk kamu dan anak kita nanti apalagi sekarang segala kebutuhan mahal...aku kan musti kerja keras...kamu harusnya bisa pahami aku dong bukan malah selingkuh dengan laki-laki lain. (tangan Boni sambil menuding ke arah Roni)

Roni hampir marah tapi dilerai tangannya oleh teman Boni.

Sarah : MasyaAllah Mas..tidak ada niatku sedikitpun untuk mengkhianati cintamu...aku terpaksa minta tolong Roni karena disaat menjelang kelahiran anak kita, orang tuaku aku telphone semuanya sedang tugas luar kota, apalagi orang tuamu Mas mereka lebih mementingkan acara ulang tahun cucunya yang lain...aku bingung harus bagaimana sementara aku sudah ga tahan menahan rasa sakit saat-saat melahirkan...aku ga pikir panjang..aku telphone Roni dan Alhamdulillah Roni segera membawaku ke rumah sakit bahkan sampai-sampai dia meninggalkan pekerjaannya sementara demi aku...harusnya Mas berterima kasih padanya...bahkan saat menolongku tidak sedikitpun Roni bersikap tidak sopan padaku, dia sangat menghargaiku sebagai istri Mas bahkan saat aku tinggal dirumahnya pun (Sarah menangis sejadi-jadinya dengan segala emosi yang berkecamuk di jiwanya...antara sedih dengan Boni suami yang dicintainya yang tidak juga memahami kondisinya dan perasaan bersalah karena Roni yang telah sesaat menjadi Malaikat penolongnya tetapi diadili oleh suami yang harusnya berterima kasih tak terhingga)

Roni dan beberapa teman Boni tidak tahu harus berbuat apa mereka hanya terdiam melihat drama dua anak manusia yang sedang mencari celah saling menyalahkan walaupun sebenarnya mereka saling menyayangi.

Melihat Sarah menangis, Bonipun jadi iba kemudian duduk disamping Sarah sambil memegang bahu wanita yang dulu sangat dicintainya dan bahkan sampai sekarang cinta itu belum juga pudar walau saat ini hembusan angin panas hampir-hampir meruntuhkan bangunan cinta mereka. Sementara Sarah tidak bisa menahan gejolak emosi jiwa dan kemudian kedua tangannya memukul dada Boni yang walau sebenarnya tidak keras tapi cukup menghujam hati Boni merasakan betapa Sarah sangat marah kepadanya. Dan Boni baru sadar bahwa selama ini Sarah sangat membutuhkan keberadaannya di sisinya apalagi di saat-saat sulit dia mengandung anak pertamanya. Boni pun merengkuh tubuh istrinya itu di dalam pelukannya. Sarah tidak berdaya karena pelukan inilah yang selama ini dia rindukan, pelukan laki-laki yang diharapkan dapat mengayominya di saat gundah sambil usapan kedua tanganya yang lembut menyeka air matanya, menemaninya di saat kesepian, dan mengajaknya membicarakan tentang rancangan masa depan mereka dan anak-anaknya kelak seperti dahulu saat-saat menjelang pernikahan mereka.

Sesaat setelah emosi di jiwa mereka berdua mereda...Boni memulai pembicaraan dengan mengatur nada bicaranya berharap tidak lagi menyinggung hati lembut istrinya untuk beramarah lagi.

Boni : Yang maafkan Mas ya, kalau ternyata dengan kesibukan Mas selama ini telah membuatmu susah. Mas berjanji akan memanage pekerjaan Mas sehingga Mas cukup waktu untukmu dan anak kita. Tetapi dimana anak kita sekarang? kok Ayang ga mebawa serta? (sambil menatap dalam-dalam wajah istrinya dan menyeka air mata yang hampir menetes dipangkuannya)

Sarah terdiam sesaat, bingung harus memulai bicara dari mana tentang anak mereka yang tidak sempurna : Mas ... Ayang sengaja ga membawa serta anak kita karena Ayang belum yakin apakah Mas bisa menerimanya ... bahkan orang tua Mas dan orang tuaku pun tidak menerimanya karena itu setelah melahirkan aku tinggal di rumah Roni. (Sarah tidak kuasa menahan air matanya memikirkan bagaimana nasib anaknya)

Boni jadi bingung ada apa sebenarnya : Apa yang terjadi dengan anak kita Yang? (sambil mengoyang-goyangkan bahu istrinya berharap Sarah segera mengatakan misteri tentang anaknya yang seolah-olah ada sesuatu yang tidak mengenakan sehingga sampai-sampai Sarah khawatir kalau dia tidak akan menerimanya)

Sarah masih belum berani berterus terang dan ingin meyakinkan betul-betul bahwa Boni siap mendengarnya = Mas yakin bisa menerimanya dan tidak akan mencampakkan kami seperti yang telah dilakukan orang tua kita?

Boni berusaha menyelami jiwanya bahwa dia akan menerima seluruh konsekuensinya karena toh walau bagaimanapun anak ini adalah darah dagingnya hasil buah cintanya dengan istrinya : Yang ... yakinlah Mas akan menerimanya apa adanya seperti halnya Mas menerima Ayang apa adanya selama ini ... (walau masih ada semburat keraguan dalam hati Boni apakah dia benar-benar siap mendengarnya)

Sarah : baiklah aku akan mengatakannya , tetapi kalaupun Mas tidak menerimanya biarlah aku sendiri yang merawat dan mendidiknya ... hmmm ... anak kita idiot Mas (Sarah menangis menutup mukanya ... seolah tidak siap melihat aura muka tidak menerima suaminya)

Boni sontak kaget dan hampir tidak percaya walau itu hanya terekspresi melalui wajahnya yang tegang dan tidak mampu berkata-kata.

Nah sebagai teman Boni melihat kondisi ini baiknya kita bagaimana ya .... dan kira-kira saran teman-teman yang terbaik buat Boni, Sarah dan anaknya bagaimana....??? secara kita melihat langsung percakapan mereka seyogyanya kita juga bisa membantu tanpa harus ikut campur terlalu jauh dengan urusan rumah tangga mereka.

8 komentar:

bagus pras mengatakan...

saya kehilangan kata2 membaca tulisan ini. Bagaimana jika saya menjadi BONI.

jujur saya tidak siap ....

Erik mengatakan...

Kalau memang anak Boni, semestinya Boni menerimanya. Bagaimanapun, Sarah adalah istrinya, dan anaknya yg idiot adalah anak kandungnya.

Semoga Bonny menyadari, dibalik kekurangan anaknya tersebut, dia menyimpan kelebihan juga buat Boni.
Dibalik kekurangan ada kelebihan. Dibalik kesulitan ada kemudahan

mama hilda mengatakan...

waduh mau koment apa ya zie, tapi menurut saya sebagai boni biar bagaimanapun anak adalah tetap anak, karena keidiotan itu orangtua sedang diuji seberapa kuatkan dapat mengemban amanah tersebut...
'menunggu kisah lanjutan' mode :)

erwin mengatakan...

klo saya menjadi boni.. saya bingung akan berbuat apa

Jenny Oetomo mengatakan...

Dalam kehidupan yang terpenting komunikasi begitu pula rumah tangga, dan saya yakin pasti mereka dapat menyelesaikannya dengan baik, Salam

Jahid KLW mengatakan...

Tapi Percayalah dari kisah itu...pasti Sutradara telah mengatur dengan apik.... kita aja yang kadang sewot dan nggak sabar dan seolah harus berbuat sesuatu sikap Sarah... Boni dstnya... Yach...tapi minimal dari cerita ini kalau saya sebagai sutradara, akan saya buat keajaiban bahwa sang anak... akhirnya bisa senmbuh dari ediotnya...dan Mereka jadi bahagia bersama. walaupun ceritanya biar panjang... Boni harus do'a ke Allah dengan terus tiap malam sholat lai... berikhtiyar dengan segala cara dsbnya.

Debrian mengatakan...

menurut saya kl saya jadi BOni,Butuh waktu lama untuk menerima itu, sungguh malang nasib anaknya boni.

Nyante Aza Lae mengatakan...

koq lengkap banget dialognya mbak..direkam yah...he,..he

-

...