Senin, 19 Mei 2008

Baru Motor..kalau Mobil dapat apa ya..?

Bismillahitawakaltu'alalloh aku putar kunci motorku, lampu hijau on dan ku injak gigi 1 kemudian aku putar gas, berputarlah roda motor itu, gigi 2 kuinjak roda motor pun naik ke jalan raya, perlahan-lahan aku naikan gigi seiring dengan laju motorku. Mataku menatap kedepan sembari aku lihat ke kaca spion adakah motor or mobil dibelakangku.

Diawal mengendarai motor dag dig dug juga rasanya karena aku memang belum terbiasa di jalan raya yang rame seperti di jawa ini, walau aku sudah punya SIM yang aku dapatkan waktu di Pontianak setahun yang lalu. Tentu kondisinya sangat berbeda, di Pontianak lalulintas masih sepi walau aku masih amatiran dalam hal motor "PD" juga lah aku, hanya beberapa kali belajar motor aku sudah berani untuk bepergian ke kota sendiri dan lebih mudah juga kudapatkan SIM.

Sejak dulu sebenarnya aku sangat ingin sekali bisa mengendarai kendaraan walau hanya motor tetapi keinginanku itu terpaksa tertunda karena memang tidak mendapat ijin dari PaeMaeku. Tetapi selama itu pula aku sangat menyadari bahwa yang Beliau lakukan sangat beralasan, karena PaeMae trauma atas kecelakaan yang pernah menimpa mereka waktu aku masih duduk dibangku kelas 2 SMP tepatnya tahun baru 1992. Praktis memang aku dan adeku tidak bisa mengendarai kendaraan sehingga kalau bepergian kemana-mana kami mengandalkan angkutan umum atau diantar Pae, hal ini membuat kami sangat tidak mandiri karena Pae lebih sering mengantar kami daripada kami harus pergi sendiri.

Kondisi ini juga berlanjut sampai aku lulus SMU dan harus kuliah di Bogor, karena kebiasaan sering diantar Pae, untuk ke Bogor sendiri pun aku ga berani, akhirnya Pae pun harus mengantarku lagi. Setelah kuliah di Bogor keberanianku mulai muncul dan berkembang, kondisi jauh dari orang tua & keluarga memaksaku untuk berani dan mandiri melakukan apapun. Alhamdulillah di Bogor aku menemukan lingkungan kondusif yang sangat baik yang sangat mendukungku untuk maju, mungkin suatu saat akan aku ceritakan betapa sangat bersyukurnya aku sejak tahun 1997 - 2004 ada dalam lingkungan itu.

Kembali kepada kapan aku bisa mulai dan berani mengendarai motor, mungkin ini bukan hal penting yang perlu aku ceritakan. Tapi ada hikmah yang bisa aku petik dari pelajaran naik motor ini. Saat aku belum bisa naik motor aku sering iri saat aku lihat temen-temen, apalagi kadang aku lihat anak kecil yang masih SMP yang notabene umur mereka belum dapat SIM kok sudah bisa dan berani ya, kenapa aku ga berani padahal secara umur aku layak. Nah setelah aku kerja aku paksakan diri untuk belajar sendiri bagaimana sih naik motor itu. Walau bermodalkan motor pinjem tapi lumayan dengan bismillah dan sedikit keberanian (sedikit karena memang hatiku bener-bener dagdidug saat aku mulai hidupin motor dan menambah giginya - waktu itu baru berani gigi 2 he he he) tapi akhirnya aku bisa walau beberapa kali sempet jatuh dan menabrak gapura dan harus mengganti sedikit kerusakan motor pinjamanku " but its ok" toh akhirnya itu semua terbayarkan dengan aku menjadi bisa dan jadi mandiri pergi kemana-mana. Bisa pergi kemana-mana sendiri buat aku sangat penting karena aku menjadi tidak bergantung kepada temen-temen or siapa yang kumintai tolong untuk mengantarku, yang itu sedikit banyak menghambat aktivitasku.

Setelah pindah tugas ke jawa lagi dan deket dengan keluarga karena hanya kutempuh dalam waktu 3 jam dari rumah ke tempat kerjaku, naik motor menjadi hobbyku. Motor kesayanganku yang alhamdulillah aku beli dengan uang hasil keringatku sendiri (ga sombong sih tapi bersyukur he he he walau baru bisa beli motor), setia menemaniku pulang seminggu sekali, memperlancar aku untuk ikut kegiatan-kegiatan, memotivasi aku untuk silaturahmi dan juga tidak lupa setia menemaniku berbelanja kebutuhanku baik harian or bulanan. Dan pastinya jauh lebih hemat dong daripada kalau aku harus naik angkutan umum.

Selain itu banyak sekali pelajaran berharga yang aku dapatkan dari petualanganku dijalan raya. Aku jadi kenal banyak jalan karena saat pertama kali perjalanan pulang naik motor aku sering kesasar terutama dikota Semarang maklum walau asli kelahiran Jawa Tengah tapi aku jarang sekali menginjakkan kaki di ibukota propinsiku ini.

Begitu juga saat balik dari rumah ke tempat kerja karena memang beda jalur jadi aku harus tanya sana-sini lagi, pepatah "malu bertanya sesat dijalan" memang bener adanya, coba aja aku malu nanya pasti aku ga sampai-sampai ke tempat tujuan. Tapi alhamdulillah orang-orang cukup baik dan ramah dan pastinya karena Perlindungan Alloh semata aku bisa sampai tujuan dengan selamat. Pernah juga sih kena razia polisi karena aku belum begitu paham dengan rambu-rambu lalulintas. Waktu itu lampu merah menyala dan akupun berhenti masuk barisan bersama kendaraan-kendaraan yang berhenti lainya. Tapi rupanya posisiku waktu itu salah karena aku memposisikan diri diarea jalan untuk kendaraan yang belok kekiri, "prit" terang aja panggilan pak polisi itu mengagetkanku yah walau kena denda ga apa-apa lah namanya juga masih belajar. Sejak itu Alhamdulillah aku jadi mulai lebih berhati-hati dan bekerja keras untuk memahami rambu-rambu.

Di perjalanan juga banyak dinamika, aku menjadi kenal dengan berbagai tipe orang yang notabene tidak aku kenal. Kalau pas ketemu yang ramah sih Alhamdulillah sama-sama mengerti posisi dan saling menjaga keselamatan bahkan kalau mau mendahului pun sopan. Tapi berbeda kondisinya kalau bertemu dengan sopir-sopir or orang-orang yang kurang ajar bisa-bisa dibikin kesel hatiku karena perkataan mereka yang sering tidak seronoh "astaghfirulloh" semoga Alloh mengampuni kekhilafan mereka. Nah tentunya saat menghadapi kondisi seperti ini hanya sifat sabar dan ikhlas yang harus diutamakan agar selamat. Dan setelah sampai tujuan dengan selamat hanya Alhamdulillah yang tak henti-hentinya aku panjatkan.

Tidak ada komentar:

-

...