Rabu, 21 Mei 2008

"Indonesia BISA"

Di sela-sela kesibukanku bekerja (maap kalau aku jadi sok sibuk) tapi memang hari ini banyak dokumen yang harus diurus, aku coba sempatkan menulis "sesuatu" yang tiba-tiba terbersit dalam benaku.

Semalem pukul 19.00 sampai kurang lebih 21.30 wib secara serentak semua stasiun televisi Indonesia menyiarkan "Perayaan 1 abad Kebangkitan Nasional NKRI". MasyaAlloh aku sampai lupa, oh iya ya kemaren kan tanggal 20 Mei dimana 100 tahun yang lalu pada tanggal itu Pemuda Indonesia memproklamirkan kebangkitannya dengan didirikannya "Boedi Outomo". Aku tonton dan aku nikmati acaranya, begitu meriah dengan hingar bingar atraksi budaya Indonesia yang dibawakan anak bangsa dan seruan kebangkitan "Indonesia BISA" yang disampaikan oleh Bapak Presiden Indonesia Soesilo Bambang Yudoyono.

Semoga seruan kebangkitan "Indonesia BISA" ini dapat didengar dan menghujam ke dalam hati sanubari setiap anak negeri dari segala pelosok nusantara dan penjuru dunia, dari segala latar belakang pendidikan dan pekerjaan untuk "BISA" bangkit dari semua keterpurukan karena kemiskinan, kebodohan, korupsi, ketidakadilan, pencurian budaya oleh bangsa lain karena kelalaian kita untuk mencintai budaya sendiri, dekadensi moral karena mulai ditinggalkannya nilai-nilai agama dan budaya ketimuran yang sarat dengan keluhuran budi pekerti.

Peringatan 100 abad Kebangkitan Nasional tahun 2008 ini "menyentilku" bahwa aku adalah salah satu anak bangsa ini. Aku juga jadi berpikir sudahkan aku "BISA" memberikan sumbangsih yang berarti? yah aku memang selama ini sibuk dengan hidupku sendiri, jarang dalam benaku terpikirkan bahwa segala yang aku lakukan adalah bisa jadi kontribusi untuk bangsa ini. Padahal dalam Islam Rasululloh pun mengajarkan kepada umatnya "bahwa mencintai negara dan bangsa adalah bagian dari kecintaan kita kepada Alloh SWT dan RasulNya" sebagai wujud dari "Islam Rahmatan Lil'Alamain" (wallohua'lam kalau salah karena keterbatasan saya dalam pemahaman Islam).

Aku jadi sadar bahwa segala yang telah ataupun akan aku lakukan semuanya harus berawal dari niat yang tulus dan bersih semata-mata karena Alloh dengan begitu aku jadi "bisa bersabar" untuk menghadapi segala tantangan dan "bisa bersyukur" dengan apa yang aku lakukan sehingga "semangat" didada ini tetap membara untuk "bisa melakukan segala sesuatu dengan mengerahkan segala kemampuan supaya menghasilkan yang terbaik" (dihadapan Alloh SWT dan makhluknya - special bangsa ini).

Yah walaupun saat ini aku belum ada pilihan untuk bekerja pada "Pengusaha Pribumi" atau bahkan aku "bisa menciptakan lapangan kerja sendiri" yang "bisa membantu Pemerintah untuk mengentaskan pengangguran dan kemiskinan", setidaknya aku tidak menjadi beban bagi siapapun.

Walau bisa dibilang aku "loyal" pada perusahaan tempat kerjaku tapi loyalku adalah bagian dari tanggungjawabku atas gaji yang aku terima karena aku tidak mau makan gaji buta, bukan loyal karena "mangagungkan".

Sejak pertama kali aku bekerja aku selalu mengatakan pada diriku bahwa tempat kerjaku adalah "Reality College" dimana tempat aku bisa "learning by doing" dari teori kuliahku atau ilmu-ilmu terapan yang baru. Karena kalau aku hanya sekedar mengejar "uang" aku ga akan dapat apa-apa karena uang bisa habis kapan saja. Tapi kalau aku mengejar "ilmu", maka uang dan prestasi kerja pasti aku dapat. Ilmu ga akan hilang, bahkan Alloh memuliakan orang-orang yang menuntut ilmu. Aku berharap dari tabunganku dan ilmu yang aku dapatkan suatu saat nanti bisa aku terapkan dalam "usahaku" sendiri.

Banyak sekali ilmu berharga yang aku dapatkan selama aku bekerja karena merupakan "campur aduk" dari segala disiplin ilmu. Aku mulai mempelajari bagaimana sebuah "Group Perusahaan" dibangun, managemen "cost" nya, improve-improve pengembanganya, marketingnya yaitu bagaimana meningkatkan kualitas produk dengan harga bersaing, menjaga hubungan baik dengan customer dan yang lebih penting adalah aku bisa belajar bagaimana harus menata hati, emosi dan akhlak ini karena bersinggungan dengan beragam karakter orang. Apalagi saat pindah ke unit-unit di daerah-daerah yang mempunyai "basic culture" berbeda, menghadapi bos yang berganti-ganti yang mempunyai type kepemimpinan berbeda-beda, menghadapi partner kerja dan karyawan yang masa kerja dan umurnya sebagian besar senior, tapi disitulah indahnya jadi semakin mengenal karakter manusia dan akhirnya semakin mengenal diri sendiri.

Semoga cita-citaku untuk membuka lapangan pekerjaan Alloh mudahkan jalannya sehingga aku "bisa memberikan sumbangsih yang berarti untuk negeri ini". Apalagi aku sebagai perempuan, dimana perempuan sangat dimuliakan dalam Islam manakala perempuan itu bisa menjaga kodratinya. Sangat lebih baik kalau aku bisa mengelola usahaku sendiri, karena aku bisa dengan mudah mamanage waktu dan aktivitasku. Dengan begitu aku bisa dengan mudah menjalankan tugas kodratiku sebagai seorang istri (semoga Alloh SWT segera menyatukanku dengan jodohku, bisa menjadi "madrasah" bagi anak-anaku kelak, AMIN.

2 komentar:

chosiin mengatakan...

semangat yang luar biasa, semoga apa yang diharapkan tercapai dan apa yang mbak kerjakan hari ini mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. berbicara masalah kebangkitan pada dasarnya memang setiap haria dalah hari kebangkitan. akan menjadi sesuatu yang konyol apabila kebangkitan itu hanya menjadi momentum belaka. bangsa kita boleh dikatakan bangsa momentum. hari-hari yang seharusnya merupakan hari-hari perubahan dan perbaikan bukan menjadi hal yang teresapi didalam diri bangsa ini. hari-hari nasional hanya sebagai sebuah momentum yang dirayakan sehari dan habis itu hilang tanpa bekas. sudah saatnya setiap individu mempunya semangat berubah dari hari ke hari, karena sesungguhnya setiap waktu pasti berubah, hanya perubahan itu sendiri yang tidak berubah. maka sekali lagi mari kita berlomba-lomba untuk berpartisipasi dalam perubahan bangsa ini, dengan apa yang kita punya, bukan sekedar mengkritik, tapi bagaimana diri ini menjadi elemen yang memberikan pencerahan dan kemajuan.

chosiin mengatakan...

semangat yang luar biasa, semoga apa yang diharapkan tercapai dan apa yang mbak kerjakan hari ini mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. berbicara masalah kebangkitan pada dasarnya memang setiap haria dalah hari kebangkitan. akan menjadi sesuatu yang konyol apabila kebangkitan itu hanya menjadi momentum belaka. bangsa kita boleh dikatakan bangsa momentum. hari-hari yang seharusnya merupakan hari-hari perubahan dan perbaikan bukan menjadi hal yang teresapi didalam diri bangsa ini. hari-hari nasional hanya sebagai sebuah momentum yang dirayakan sehari dan habis itu hilang tanpa bekas. sudah saatnya setiap individu mempunya semangat berubah dari hari ke hari, karena sesungguhnya setiap waktu pasti berubah, hanya perubahan itu sendiri yang tidak berubah. maka sekali lagi mari kita berlomba-lomba untuk berpartisipasi dalam perubahan bangsa ini, dengan apa yang kita punya, bukan sekedar mengkritik, tapi bagaimana diri ini menjadi elemen yang memberikan pencerahan dan kemajuan.

-

...