Rabu, 28 Mei 2008

Kaya dan Miskin apa bedanya?

Malam ini tepat pukul 19.00 wib adalah waktu yang sudah lewat aku untuk bekerja tapi yah hari ini benar-benar padat jadi jam segitu baru selesai. Sebenarnya aku sudah lelah banget dan pengen segera pulang ke mess, makan trus hmmm kasurku yang bernuansa bunga matahari dan daunnya yang hijau cerah begitu menggoda serasa aku bobo ditaman bunga. Lantas aku inget tadi sore temen sekantorku "Mas Iw" sempet bercerita tentang uneg-uneg hatinya. Ah nulis bentar deh mumpung lagi "hot news" kalau ditunda nanti jadi ga hot lagi pikirku.

"Mba, kalau orang kaya kali mikirnya bukan lagi kerja besok pagi kayak kita ya? tapi mereka sudah mikir aku besok mau jalan-jalan ke eropa, hongkong atau mana ya?" pertanyaannya itu menggelitik telingaku dan terang aja mengganggu konsentrasiku yang lagi serius melototin komputer karena report deadline hari ini. Rasa-rasanya aku ga tega untuk ga share sama dia karena temanya lumayan menarik sayang untuk dilewatkan dan pastinya tidak sampai mengganggu pekerjaan kami karena mata dan tangan kami tetap asyik dengan komputer kami masing-masing seolah sudah terjadi harmonisasi perintah dari otak, mata dan tangan.

"Iya sih Mas, karena uang bukan lagi masalah buat mereka. Orang kaya sudah punya tabungan banyak di Bank, punya asuransi untuk jaminan mereka sekeluarga, bahkan punya perusahaan. Jadi uang yang ada ditangan tinggal mikir mau diapain ya?, ya karena semua kebutuhan sudah terpenuhi jadinya ya tinggal membuat "Life be Happy" alias cari hiburan gitu" celotehku yang seolah-olah sok tahu gimana nikmatnya jadi orang kaya itu.

"Beda dengan kita ya mba, sudah kerja sama orang, sekarang berlaku efisiensi sehingga jam kerja kita sering overtime tapi ga dibayar, tapi tetep aja saya jalanin mba. Kalau saya sih ga pernah berharap dibayar atau minta ganti libur jam kerja saya yang sudah over karena toh perusahaan juga ga akan merubah peraturan, gaji saya ya tetep segitu juga, malah jadi menggaggu, kerja saya jadi ga tenang karena ga ikhlas dan ga enjoy. Bagi saya sih yang penting tanggung jawab saya tertunaikan. Kalau saya ikhlas insyaAlloh rizki yang saya berikan kepada istri dan anak jadi berkah. Dan dengan bekerja ikhlas dan enjoy banyak hal yang saya dapatkan terutama ilmu dan teman mba". Pertanyaannya pun mengalir bak air terjun yang ga bisa berhenti, bersamaan dengan jawaban yang dia buat sendiri. Subhanalloh, begitu mulianya hatinya padahal sepertinya dia bukan orang yang paham agama, masyaAlloh aku kok jadi sok jadi hakim agama ya dengan mudahnya menilai agama orang lain, astaghfirulloh.

Ada sih temen kerja kami yang mengatakan "ngapain juga kita loyal toh kita ga dibayar lagian kita kerja sama orang non muslim, ngapain juga bikin kaya mereka" (maaf dimuat bukan bermaksud SARA). Yah mungkin kedua pendapat itu ga ada salahnya semuanya benar tergantung sudut pandang masing2 orang. Tapi saya lebih cenderung kepada pendapat mas Iw. Bukan berarti saya pemuja perusahaan tempat saya bekerja. Kalau kita merasa tenaga dan pikiran kita "rugi" karena dibayar tidak sepadan ya kita coba cari yang lain yang paling penting adalah "ilmu dan teman" karena ilmu dan teman ini tidak ternilai harganya tidak bisa dinominalkan apalagi ditawar. Sehingga kerugian kita terbayarkan oleh ilmu dan teman tadi dah malah kita jadi untung karena dapat ilmu ga perlu kuliah yang sekarang dah berapa mahalnya. Yah memang beda sih, kalau kuliah kan dapat ijazah yang bisa menjadi sebuah prestasi sedangkan ilmu di dunia kerja kan ga ada ijasahnya tapi menjadi sebuah pengalaman saja.

"Ilmu dan temen yang kita dapat kan bisa diwariskan ke anak kita nanti mba" opini mas Iw pun berlanjut. Bener juga ya setidaknya dengan kita menjadi orang tua yang banyak pengalaman, nanti anak kita bisa kita latih dengan ilmu terapan yang sudah kita dapatkan. Saat nanti anak-anak kita sharing masalah sama kita, kita bisa menjawabnya.

Dengan senyuman khasnya pertanyaannya pun dilanjutkan "Tapi kenapa ya BBM naik seperti sekarang misalnya naik Rp.1500,- orang kaya juga ikutan demo ya?, kan uang segitu ga ada artinya buat mereka mba?". Nah kini jawabanku yang penuh analisa pun mengalir seolah-olah aku ini adalah pengamat ekonomi "yah kalau kita kan belinya sedikit mas paling juga buat pulang dan berangkat kerja 1-3 liter untuk motor cukup, kalau orang kaya kan sudah pake berapa ton liter or malah barrel kali coba aja dikalikan?". Ku lihat dia serius mengernyitkan keningnya seolah-olah dia berpikir mungkin menghitung kali ya berapa juta or milyar ya. Dia pun membenarkan aku seolah-olah hitungannya benar : "Iya ya mba bener juga, kalau keperluan kita kan paling beli minyak untuk masak dan motor, kalau orang kaya kan untuk mobil, belum lagi bahan bakar untuk perusahaannya ya."

"Bersyukur saya mba jadi orang biasa aja, orang kampung yang makanan bukan masalah karena tinggal ambil dari kebun paling tinggal mikir minyak secukupnya untuk masak". Cerita mas Iw pun berlanjut. Akupun menunjukkan kata sepakatku "iya bener mas, coba orang kaya mereka semuanya beli ya, makanya jadi berat kalau BBM naik"

Ditengah keseriusanku menulis percakapanku dengan mas Iw tiba-tiba dari pintu ada yang nyapa "belum pulang mba kan dah malam?" ternyata bapak Fy (mekanik yang masuk shiff malam). "iya nih pak lagi nulis obrolan saya tadi siang dengan Mas Iw, tentang nikmatnya jadi orang kaya" jawabku. Bapak itupun melanjutkan obrolannya dengan tetap berdiri dipintu "sebenarnya orang kaya sama orang miskin itu lebih nikmat orang miskin kalau dapat sesuatu." "Kok bisa pak?" tanyaku dengan penasaran. "coba dibandingkan, bos kita mungkin dapat bonus 1 x gajinya biasa saja atau naik pangkat mungkin biasa saja. Beda dengan mbok saya dapat untung Rp.500 senengnya minta ampun bahkan ga dapat untung tapi dapat kepercayaan dari pembelinya juga sudah seneng." Ceritanya pun berlanjut "bapak saya kambingnya melahirkan 2 anak bersyukur sekali, beda misalnya bos kita dapat kambing 2 ya biasa aja." Pembandingan Bapak itu cukup masuk akal. "Makanya bersyukur kita jadi orang biasa saja (bukan bermaksud pasrah) karena kita benar-benar bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa sedikit apapun pemberian itu mba". Iya ya bener juga sih pikirku, karena semakin banyak uang dan jabatan yang kita punya ukuran kenikmatan kita pun makin besar.

Di saat kita masih jadi karyawan dengan gaji UMR mungkin kebutuhan kita baru sebatas makan, kasih orang tua secukupnya, tabungan secukupnya malah kadang pas-pasan. Tapi dengan naiknya jabatan yang otomatis gaji kita pun bertambah, pergaulan makin bergengsi tentu beda dong kebutuhan kita, menjaga penampilan jadi perlu, beli pakaian or hp baru jadi perlu, gengsi dong katanya.

Manusia hidup jadi ga ada puas-puasnya, makin ditambah nikmatnya malah makin kurang jadi makin haus akan nikmat. Walaupun ada manusia-manusia yang mereka makin bersyukur dan tetap bersahaja walau hidupnya berlimpah harta & kemewahan yaitu orang-orang yang menauladani Rasululloh Saw.

Rasululloh adalah pedagang yang sukses. Saat Rasululloh menikahi Ibunda Khodijah, Rasululloh memberikan mahar 20 unta kalau sekarang harga unta minimal Rp. 20 juta per ekornya berarti mahar yang diterima ibunda Khodijah Rp. 400 juta dalam nominal, banyak kan?. Saat Rasululloh wafat pun harta Rasululloh tidak habis dibagikan kepada seluruh penduduk Mekah saat itu. Tetapi walaupun begitu Rasululloh tetap hidup bersahaja "berhenti makan sebelum kenyang dan pakaian beliau pun sederhana." Dunia beliau jadikan pendukung menuju kesuksesan akhirat, beliau memberi zakat dan sedekah kepada kaum papa dan harta untuk membiayai jihad fisabilillah melawan kaum kuffar saat itu. Hal itupun dicontoh oleh para Sahabat Beliau, hampir semua sahabat Beliau dari Umar, Abu Bakar, Abdur Rahman bin Auf dan lain-lainnya semuanya adalah pengusaha-pengusaha yang sangat sukses. Kalau dibaca di Sirah Nabawiyah, yang memacu para sahabat untuk kaya adalah dengan semakin banyak harta maka makin banyak pula zakat, infak, sedekah dan dana untuk jihad fisabilillah. Ada satu petuah yang menarik dari Sahabat Umar (kalau ga salah sih) :"genggamlah dunia ditanganmu tapi jangan dihatimu", sehingga dunia itu akan mudah terlepas dari tangan kita untuk dinafkahkan di jalan Alloh karena hati kita tidak menggondelinya, wallohua'lam.

Sepertinya tidak mudah ya menjadi seperti sahabat Rasululloh apalagi menauladani Rasululloh. Karena aku pun belum bisa. Sering saat uangku di dompet hitungannya ga sama persis dengan perkiraanku gelisah lah aku dibuatnya. Hilang dimana ya, boro-boro ikhlas malah jadi suuzon sama temen, jangan-jangan ada yang ngambil, masyaAlloh.

Tapi setidaknya dari beberapa penggal obrolanku dengan mas Iw dan Pak Fy tadi mengingatkan aku bahwa hidupmu ga hanya untuk duniamu sus, tapi bagaimana duniamu bisa untuk mencapai kebahagiaan akhiratmu. Terima kasih ya Alloh, Engkau berikan orang-orang yang baik disekeliling hamba yang bisa menjadi pengingat bagi hamba. AlhamdulillahhiRobbil'alamin.

Tidak ada komentar:

-

...