Kamis, 15 Mei 2008

Nasi beras dan 1 butir telur itu...

Di sebuah desa ada seorang gadis kecil bernama ziezie yang tinggal bersama kedua orang tuanya, rumah mungil mereka dipinggir sungai yang merupakan pusat irigasi persawahan di desa itu.

Mereka sekeluarga hidup bersahaja selayaknya orang desa pada umumnya, di pagi hari seperti biasa Ibu menyiapkan sarapan seadanya untuk Suami & putri tercinta. Setelah sarapan Bapak pergi ke kota untuk menjemput rizki yang Alloh SWT bagikan kepada hamba-hambaNya. Ibu juga sama berusaha menjemput rizki sebisanya kadang jualan di pasar kadang juga mencari barang bekas untuk dijual ke penampung dengan mendapat uang secukupnya lumayan untuk bantu suami belanja kebutuhan sehari-hari. Sementara zie dititipkan ditetangga sebelah rumah.

Rupanya pagi itu zie melihat kerumunan anak-anak yang umurnya setahun diatasnya berangkat sekolah begitu cerianya dengan seragam merah putih dan tas dipunggungnya, iri rasanya “kapan ya aku bisa bersama mereka, bosen juga tiap hari main sendirian, ngomong sendiri pura-pura jadi ibu dan anak sendirian”

Siang hari Ibu pulang dan langsung masak, setelah semuanya siap dijemputlah ziezie ”nduk muleh maem sek (1…ini Mae sudah masak sayur beneng kesukaanmu sama ikan pindang goreng” wah enak pasti pikirnya, zie berlari ke rumah dengan girangnya meninggalkan Ibunya yang senyum sumringah senang karena putrinya tidak susah disuruh makan seperti anak-anak lainnya walau dengan lauk seadanya. Tanpa pikir panjang zie buka tudung meja makan “hmmmm enak ini ada sambel trasinya lagi” dengan sigapnya zie ambil piring dan mengisinya dengan semua makanan yang ada dimeja. Melihat tingkah zie yang buru-buru seperti itu ibunya mengingatkan “nduk ijuk sek trus berdoa ya..baru maem (2” beres Mae” jawab zie. Subhanalloh lahap sekali zie makan siang itu. “lho Mae kok mboten maem (3” tanyanya. “Mae sudah makan tadi sebelum jemput kamu” (dari jawaban ini ternyata mengandung sebuah pengorbanan yang luar biasa yang zie ketahui setelah dia dewasa.Ibunya bercerita bahwa kenapa Ibunya selalu makan duluan, ternyata Ibu makan nasi aking (4. berbeda dengan zie yang dimasakan nasi dari beras. Subhanalloh begitu besarnya kasih sayang Ibunda yang perjuangannya sepanjang masa tidak hanya disaat-saat susah mengandung 9 bulan).

Sore hari pun tiba, saat yang dinanti-nanti zie “pasti Pae bawain telur rebus kesukaanku” pikir zie. Zie sudah menghadang didepan pintu harap-harap cemas “Pae bawain ga ya”. Dari jarak 5 meteran walau gelap Bapak sudah kelihatan, maklum aja mata mungil zie ga lepas memandangi kedatangan sosok laki-laki yang diharapkannya itu. Alhamdulillah lega rasanya hati zie, Bapak mengeluarkan I butir telur rebus dari kantong celananya. Mungkin bagi anak lain itu adalah hal biasa tapi tidak bagi zie. 1 butir telur rebus itu merupakan bentuk ketulusan kasih sayang yang luar biasa dari Ayahanda yang akan selalu jadi kenangan indah sampai kapanpun.

Lalu Pae, Mae dan zie segera berkumpul diruang makan yang merupakan ruang tamu juga. Mereka makan bersama begitu nikmat walau dengan hidangan seadanya tapi kebersamaan itulah yang menghadirkan kenikmatan & kelezatan dari makanan yang mereka santap. Sambil menikmati makan malamnya, zie memberanikan diri bertanya pada Bapak ”Pae, seneng nggih saget sekolah kados rencang-rencang (5” ups Bapak agak sedikit kaget kenapa zie tiba-tiba bertanya seperti itu. “piye nduk kowe pengen sekolah? (6” tanya Bapak. Ibu pun menimpali “tapi umurmu kan belum cukup nduk, masih kurang setahun lagi baru boleh sekolah”.”’tapi gpp juga” kata Bapak, “coba besok Mae tanya ke Pak Kepala Sekolah kebetulan Mae kan kenal sama Pak Guru kali-kali boleh ikut-ikutan sekolah dulu, ya itung-itung nitipin kalaupun nanti ga naik kelas ya gapapa”. Seneng banget hati zie, sudah terbayang dibenaknya pagi-pagi mandi trus pake seragam trus berangkat bareng sama temen-temen, wah asyik bener. Membayangkan itu zie jadi susah tidur pengen rasanya cepet-cepet pagi.

(1 : nak pulang makan dulu
(2 : nak cuci tangan dulu trus berdoa baru makan
(3 : lho Ibu kok ga makan
(4 : nasi sisa yang dikeringkan
(5 : Bapak, seneng ya bisa sekolah seperti temen-temen
(6 : gimana nak kamu ingin sekolah

Tidak ada komentar:

-

...